BISNIS DAN USAHA

  • BISNIS DAN USAHA
  • SEJARAH SUKU PASEMAH
  • POLITIK
  • POLITIK

Kamis, 21 April 2011

Alexander III 'The Great' Leluhur Penguasa Sriwijaya

Alexander III 'The Great' Leluhur Penguasa Sriwijaya

Kunjungi (Revisi Sejarah Bangsa Melayu)...
Nabi Nuh, Sundaland dan Bangsa Melayu



Ada legenda di tanah Melayu, yang menceritakan penguasa Sriwijaya adalah keturunan dari Alexander III 'The Great' of Macedonia (Iskandar Agung). Akan tetapi, apakah cerita ini hanya sebatas Legenda?


Sejarah Sriwijaya versi Ahmad Grozali


Di dalam tulisannya, yang berjudul 'Ringkasan Sedjarah Seriwijaya Pasemah', Ahmad Grozali mengisahkan tentang mendaratnya kapal Putera Mahkota kerajaan Rau (Rao) India, yang bernama Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, tahun 101 Saka (179 M) di bukit Siguntang.

Kedatangannya bertujuan untuk mencari, Seri Nuruddin, Panglima Angkatan Laut Negeri Rau yang menghilang, setelah berangkat menuju Nusantara tahun 10 Saka (88M). Ringkas cerita, akhirnya Atung Bungsu bertempat tinggal di sekitar tanah basemah.

Atung Bungsu dipercaya merupakan leluhur dari :
  • Suku Basemah (Pasemah), Empat Lawang, Lahat dan Semende
  • Dapunta Hyang Srijayanasa, pendiri Kedatuan Sriwijaya.
  • Dapunta Hyang Syailendra, pendiri Wangsa Syailendra di Pulau Jawa
  • Parameswara, pendiri Kerajaan Malaka di Malaysia
Sumber :
http://besemah.blogspot.com/2006/06/sejarah-sriwijaya-versi-grozali.html


Rau adalah Kushans

Bila kita membuka lembaran sejarah, pada tahun 80M-200M, di India terdapat Kerajaan yang terkemuka yang bernama Kushans.

Kuat dugaan Kerajaan Kushans indentik dengan Kerajaan Rau, yang menjadi tempat asal Atung Bungsu. Pendapat ini setidaknya didukung dua alasan, yaitu :
  1. Penguasa Kushans memiliki kepercayaan yang sama dengan Penguasa Sriwijaya, yakni penganut agama Buddha Mahayana.
  2. Penguasa Kushans, pada tahun 80M-200M dipimpin oleh keturunan Kaisar Liu Pang (Dinasti Han). Dan apabila kita perhatikan anak cucu Atung Bungsu, yang berada di daerah tanah Basemah (Pasemah), seperti di Pagar Alam, Empat Lawang dan Lahat, memiliki perawakan mirip bangsa cina.



Atung Bungsu Putera Kanishka III


Diperkirakan Seri Nuruddin meninggalkan kerajaan Rau (Kushans) menuju Nusantara, pada masa pemerintahan Kanishka I (75M-105M). Dan Atung Bungsu, Putera Mahkota kerajaan Rau (Kushans), pergi untuk mencari Seri Nuruddin, pada masa pemerintahan ayahnya Kanishka III (175M-200M).

Kanishka III adalah keturunan Wema Kadphises II. Wema Kadphises II adalah putera Kuyula Kadphises I dengan Princess dari Kerajaan Bactria, melalui Princess of Bactria inilah, silsilah keturunan Alexander III 'The Great' berasal.


Silsilah Atung Bungsu sampai Alexander III 'The Great'

Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu putera Kanishka III (King) of the KUSHANS putera Vasudeva I (King) of the KUSHANS putera Huvishka I (King) of the KUSHANS putera Kanishka I of KUSHANASTAN putera Wema (Vima) Kadphises II (King) of the KUSHANAS putera Princess of BACTRIA puteri Calliope of BACTRIA puteri Hippostratus of BACTRIA putera Strato I Epiphanes (King) of BACTRIA (MATHURA) putera Agathokleia BACTRIA puteri Agathokles I (King) of BACTRIA putera Pantaleon of BACTRIA putera Demetrios (Demetrius) I (King) of BACTRIA putera Berenike of BACTRIA puteri Princess of SYRIA puteri Laodice I of SYRIA puteri Aesopia the PERDICCID of MACEDONIA puteri Alexander III 'The Great' (King) of MACEDONIA
Sumber :
http://fabpedigree.com

Catatan :
  1. Pada saat Atung Bungsu berlayar ke Nusantara tahun 101 Saka (179M), setidaknya, ada 3 pendapat mengenai siapa yang menjadi penguasa Kushans ketika itu, yaitu :

    • Kanishka III (175M-200M) putera Vasudeva I putera Huvishka I putera Kanishka I putera Wema Kadphises, sumber : fabpegree.com.
    • Vasudeva I (164M-200M) putera Huvishka I putera Kanishka I putera Wema Kadphises, sumber : www.indopedia.org.
    • Huvishka I (140M-183M) putera Kanishka I putera Wema Kadphises, sumber : en.wikipedia.org.

      Mengenai pendapat yang paling benar, tentu setiap pihak memiliki sumber masing-masing. Namun yang jelas, dari ketiga pendapat diatas, Atung Bungsu adalah keturunan dari Wema Kadphises, yang silsilahnya menyambung kepada Alexander III 'The Great' of Macedonia.

  2. Imperium Kushan adalah salah satu kerajaan yg memiliki wilayah sangat luas yg membentang dari India, Pakistan sampai utara Afghanistan, berbatasan langsung dengan Kekaisaran Han (Dinasti Han) di timur dan Parthia (Persia) di barat. Asal muasal Kerajaan Kushan dimulai dari eksodus besar-besaran bangsa Yue-Chi (Yuezhi) dari barat laut China (sekarang Xinjiang) akibat gempuran Xiong nu Khanate dari utara. Mereka (Yue Chi) pindah ke asia tengah, membentuk kerajaan baru dan menaklukkan wilayah utara India, hidukush dan bagian timur Persia. Yue Chi terbagi menjadi 5 clan yg mendiami wilayah yg berbeda2, dan Kushan adalah salah satu dari 5 clan tsb. Seiring dengan menguatnya Clan Kushan, Pangeran Kujula Kadphises memerintahkan untuk menyerbu 4 clan lainnya sehingga akhirnya 5 clan tersebut disatukan dibawah pimpinan Kushan.

    Karena letaknya ditengah2 jalur sutra (Silk Road), banyak keuntungan yg didapat oleh Kushan, terutama dari perdagangan, karena kota2 mereka adalah tempat persinggahan kafilah2 pedagang yg melalui jalur sutera. Masyarakat Kushan sendiri adalah masyarakat nomaden, karena itu mereka memiliki beberapa ibukota, Begram ibukota musim panas dan Peshawar ibukota musim dingin.

    Kekuatan utama militer Kushan adalah Cavalry/Horse Archer (Pasukan pemanah berkuda). Dalam satu agresi militer, bisa terkumpul 100.000 horse Archer. Pada masa jayanya, Kushan sangat kuat, bahkan mereka bisa merebut kembali sebagian wilayah nenek moyang mereka (Yue Chi).

    Keruntuhan Kushan disebabkan oleh menguatnya pengaruh Persia Sassanid di barat, akhirnya mereka menjadi kerajaan inferior (Vassal) dari Kekuasaan Sassanid.

    Sumber :
    http://www.banggundul.web.id/2009/11/kerajaan-kushan-kushan-empire-60m-375m.html

  3. Pada tahun 101 Syaka (bertepatan dengan tahun 179 Masehi), berlabuhlah tujuh bahtera (jung) di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang iu adalah Bukit Seguntang yang sekarang, yaitu bukit dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang.

    Adapun Angkatan Bahtera (Armada Jung) yang berlabuh di Pulau Seguntang pada tahun 101 Syaka atau 179 Masehi itu, dipimpin oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, putra mahkota Kerajaan Rau (Rao) di India. Sebagai penasihat Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu adalah Ariya Tabing dari Kepulauan Massava (Filipina) dan Umayullah dari Parsi Persia (Iran).

    Perjalanan Angkatan Bahtera Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu adalah perjalanan kedua yang dilakukan oleh Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) untuk menyelidiki pulau-pulau di Nusantara, yaitu pulau-pulau di tenggara benua Asia. Perjalanan pertama berlangsung sebelum tahun 10 Syaka atau tahun 80-an Masehi. Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) yang berangkat ke Nusantara sebelum tahun 10 Syaka itu dipimpin oleh Seri Nuruddin yang berasal dari Kepulauan Massava (Filipina), yang pada waktu itu menjabat sebagai Ariya Passatan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao).

    Angkatan Seri Nuruddin telah berpuluh-puluh tahun tidak kembali ke Kerajaan Rau (Rao) di India, bahkan tidak ada kabar sama sekali. Oleh sebab itu maka dikirim angkatan kedua, angkatan susulan, yang dipimpin langsung oleh yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu. Mereka mengharung samudera, menuju ke pulau-pulau Nusantara.Pada hari Jumat, hari ke-14, bulan Haji (bulan Zulhijjah), tahun 101 Syaka, bertepatan dengan tahun 179 Masehi, mendaratlah Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu yang memimpin Angkatan Tujuh Bahtera itu di daratan, di dekat pohon cendana, di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang.

    Di situ beliau Yang Mulia menemukan satu bumbung (berumbung) atau tabung yang berisi lempengan emas bersurat. Lempengan emas bersurat dalam bumbung yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu itu, ternyata adalah surat atau warkah yang ditandatangani oleh Seri Nuruddin, Ariya Passetan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao), bertanggal hari kesebelas, bulan ketujuh (bulan Rajab), tahun 10 Syaka, bertepatan dengan tahun 88 Masehi.

    SuratInilah isi surat atau warkah emas yang ditulis dan ditandatangani oleh Seri Nuruddin, yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di bawah pohon cendana, di Bukit Seguntang itu.“Kami tak dapat lagi pulang ke India karena segala alat perlengkapan kami telah rusak binasa. Tetapi kami telah menemukan beberapa pulau, di antaranya ada yang kami namakan Tanah Jawa karena di dalamnya (di pulau itu) banyak kami mendapat buah jawa, yang kami makan dan dijadikan bubur.Barangsiapa mendapatkan barang ini (surat ini) hendaklah menyampaikannya ke hadirat Yang Diperlukan Kerajaan Rau (Rao) di India”.Demikianlah isi surat pertama yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di Bukit Seguntang.

    Setelah penemuan surat pertama itu, Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu menemukan surat yang kedua. Rupanya tahun pembuatan dan orang yang membuat atau menulis surat itu berlainan. Surat yang kedua ditulis pada tahun 50 Syaka (128 Masehi). Yang menulisnya adalah Ariya Saka Sepadi, Bukan Seri Nuruddin.Surat yang ditulis oleh Ariya Saka Sepadi pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) itu dituliskan pada “kain bambu” (bilah-bilah bambu) yang isinya sebagai berikut.“Pada tahun 50 Syaka (28 Masehi), Yang Mulia Seri Nuruddin meninggal dunia di Muara Lematang dan kami makamkan dia di sana dengan upacara yang selayaknya. Ditulis oleh Ariya Saka Sepadi”.Demikianlah di antara tanda-tanda yang mereka peroleh atau temukan bersama-sama dengan beberapa benda lain peninggalan Angkatan Bahtera Seri Nuruddin yang telah rusak binasa pada tahun 10 Syaka (88 Masehi) dan perihal kematian Seri Nuruddin sendiri pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) di Muara Lematang, sebelah barat Bukit Seguntang.TeraYang Mulia Seri Mapuli Dewan Atung Bungsu yang mendarat di Bukit Seguntang pada tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu segera mendirikan pondokan bagi angkatannya (rombongannya)

    Sumber :
    http://besemah.blogspot.com/2006/06/sejarah-sriwijaya-versi-grozali.html

  4. Atung Bungsu, juga merupakan keturunan Cyrus II `the Great' of PERSIA, yang menganut keyakinan Monotheisme. Sebagian ulama percaya, bahwa Cyrus II `the Great' indentik dengan Zulkarnain (Zul-Qarnayn), yang kisahnya terdapat di dalam Al Qur'an (QS. Al Kahfi (18) : 83 - 98).

    Sumber :
    http://waii-hmna.blogspot.com/2007/04/776-siapakah-dzulqarnain.html
    http://sangtawal.blogspot.com/2009/09/siapakah-yang-layak-di-gelar-zul.html


    Silsilah lengkapnya sebagai berikut :

    Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu putera Kanishka III (King) of the KUSHANS putera Vasudeva I (King) of the KUSHANS putera Huvishka I (King) of the KUSHANS putera Kanishka I of KUSHANASTAN putera Wema (Vima) Kadphises II (King) of the KUSHANAS putera Princess of BACTRIA puteri Calliope of BACTRIA puteri Hippostratus of BACTRIA putera Strato I Epiphanes (King) of BACTRIA (MATHURA) putera Agathokleia BACTRIA puteri Agathokles I (King) of BACTRIA putera Pantaleon of BACTRIA putera Demetrios (Demetrius) I (King) of BACTRIA putera Berenike of BACTRIA puteri Princess of SYRIA puteri Laodice I of SYRIA puteri Aesopia the PERDICCID of MACEDONIA puteri Roxane (Roxana) of SOGDIA puteri Barsine of STATERIA puteri Darius III (Shah) of PERSIA putera Arsames (Prince) of PERSIA putera Ostanes of PERSIA putera Darius (Ochus) II (Shah) of PERSIA putera Artaxerxes I Longimanus (Shah) of PERSIA putera Xerxes I `the Great' of PERSIA putera Atossa (Hutaosa) of PERSIA puteri Cyrus II `the Great' (1st Shah) of PERSIA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar